Sejarah Kedatangan Islam di Benua Hitam

Perjumpaan pertama masyarakat benua Afrika dengan ajaran Islam dapat di telisik dari tulisan Ibnu Ishaq[1]hijrah.[2] Seorang sahabat,[3] Ja’far bin Abi Thalib, menjelaskan sedikit ajaran Islam pada raja Negus, penguasa kekaisaran Kristen Axum tentang persamaan ajaran Kristen Monophysit dengan ajaran Islam, termasuk didalamnya komentar Qur’an tentang kerasulan Yesus dan kesucian Bunda Maria yang mirip dengan paparan Injil Yohanes, Alkitab Perjanjian Baru. tentang peristiwa [4] Walaupun misi hijrah sebenarnya adalah usaha umat muslim pertama untuk mencari suaka politik, -dan bersifat sementara, namun setidaknya inilah titik awal perjumpaan Islam dengan masyarakat Afrika, lebih tepatnya masyarakat Kristen Nestor Ethiopia,[5] di Tanjung Afrika.
Bila di wilayah Kristen Nestor Ethiopia, Islam bertemu dengan jalan damai dan penuh wajah toleran. Maka lain halnya dengan perjumpaan Islam di wilayah Kristen Koptik Mesir,[6] proses penyebaran ajaran Islam di Mesir[7] terjadi setelah penaklukan militer oleh bangsa Arab yang di pimpin oleh Amr bin Ash (642 M), gubernur atau emir wilayah Palestina, di masa pemerintahan Umar bin Khattab (644 M)[8]. Islam cepat tersebar di Mesir sebagai akibat dari proses arabisasi Afrika Utara yang juga terjadi secara bersamaan. Kondisi ini menjadi faktor utama kaum Muslim hingga menjadi penduduk mayoritas di Mesir Koptik pada pertengahan abad ke-10, akulturasi budaya yang sangat cepat antara Mesir Koptik dengan kultur Arab sebagai identitas kebudayaan baru, di kemudian hari menggantikan kebudayaan kultur Koptik dan penggunaan bahasa Yunani Alexandrian dengan budaya dan bahasa Arab sebagai sole vernacular[9] (jaringan system sosial baru sebagai urat nadi kultur universal masyarakatnya). Sekalipun demikian, pertemuan antara Islam dan Kristen Koptik sempat terjadi dalam ruang sosiokultural, -bahkan terjadi sebelum penaklukan Mesir oleh Amr bin Ash, yakni sesaat setelah penaklukkan Mekkah (Fathu Makkah), Nabi menerima seorang budak wanita Koptik Mesir bernama Maria binti Syam’un al-Qibtiya al-Mishriyah[10] -yang kemudian beliau jadikan istri- dari Juraij ibn Miyna al Muqauqis,[11] gubernur kekaisaran Byzantium di Alexandria, Mesir.
Menariknya, kemenangan pasukan Islam di Mesir Koptik justru memberikan ruang kebebasan beragama bagi umat Kristiani, sehingga mereka dapat memanggil kembali para patriarch Monophysit untuk memimpin mereka dalam liturgy dan ekaristi Gerejani Iskandariah Mesir (sebelumnya ajaran Monophysit di pandang sebagai bid’ah penyimpangan ajaran Kristiani oleh para patriarch Kristen Ortodoks Timur di Byzantium pada Konsili Kalsedon pada 451 M sebab memandang Yesus Kristus, “sebagai inkarnasi kudus Allah Putra atau Firman/Logos dari Allah Bapa, yang hanya memiliki satu sisi “personae/pribadi,” entah itu ketuhanan sepenuhnya atau sintesis dari ketuhanan dan kemanusiaan sepenuhnya). Amr bin Ash dan armada pasukan muslim hanya melepaskan kendali politik Byzantium atas Mesir Koptik, pada akhirnya kota Iskandariah justru menjadi kota dengan komunitas religius yang jauh lebih heterogen dan lebih toleran dari pada saat kota Iskandariah berada dalam pengawasan Byzantium.[12]
Mesir Koptik benar-benar lepas secara politik dari kendali Byzantium tepat saat pasukan muslim pimpinan Abdullah Ibn Sa’ad menginvasi Tunisia dari tahun 647-648 M,[13] dan kemudian di lanjutkan oleh jenderal muslim Uqba Ibn Nafi pada tahun 670 M, 2 tahun setelahnya (672 M) Uqbah Ibn Nafi mendirikan kota Qairawan / Kairouan di Tunisia[14] dan membangun Masjid Besar Qairawan atau di kenal sebagai Masjid Uqba, salah satu dari jajaran masjid tertua di awal kedatangan Islam di Afrika.[15] Qairawan berperan sebagai pusat administrasi militer di kawasan Afrika Utara setelah Damaskus di Syiria, dan membentang di sepanjang wilayah Libya Barat, Tunisia, dan Aljazair Timur.[16] Usaha penaklukkan Afrika Utara dilanjutkan oleh Zuheir akibat Uqba Ibn Nafi terbunuh oleh gabungan pasukan Romawi-Berber pada pertempuran Biskra, wilayah pesisir Tunisia Utara hari ini, pada tahun 682 M.
Oleh karena itu pada masa khalifah ke-5 era bani Umayyah, Abdul Malik Ibn Marwan pada tahun 689 M melihat sebagian besar Afrika Utara telah ditaklukkan oleh pasukan Berber muslim dan sepenuhnya lepas dari kontrol Bizantium, sehingga dibagilah Afrika Utara menjadi tiga propinsi emirat yaitu; Mesir Koptik dengan ibukota emiratnya di al-Fustat; Ifriqiya[17] atau Tunisia dengan ibukota emiratnya di Qairawan/Kairouan dengan Musa Ibn Nusayr sebagai emir, dan Maghribi –Maroko saat ini, dengan ibukota emiratnya di Tangiers. Kemudian, Musa Ibn Nusayr menggunakan cara persuasive dalam memperkenalkan Islam pada bangsa Berber di Afrika Utara, ia mencoba lebih toleran dan menghormati kebudayaan animis bangsa Berber serta melakukan upaya diplomatic untuk meyakinkan bangsa Berber bahwa kedatangan bangsa Arab bukan untuk menghancurkan mereka, melainkan untuk melepaskan mereka dari cengkeraman Bizantium, seperti halnya Tunisia. Upaya Musa Ibn Nusayr berhasil dan menyebabkan separuh populasi etnis Berber di Afrika Utara masuk Islam, bahkan sebagian besar dari mereka menjadi pejabat public emirat Ifriqiya di ibukota Qairawan tanpa harus melepaskan keyakinan tradisinya. Tidak hanya itu, mayoritas armada militer suku Berber memilih untuk bergabung dengan pasukan militer emirat Ifriqiya, Tunisia.[18] Kehebatan dan kepopuleran pasukan Berber di kawasan Afrika Utara dan keunggulan mereka didepan pasukan Byzantium, menyebabkan Tariq Ibn Ziad[19] (pemimpin kabilah Berber Zenata) dan pasukannya terus dipergunakan oleh kekhalifahan Umayyah dalam upaya penaklukkan Al-Andalusia, Spanyol pada tahun 711 M.
Belum pernah ada sebelumnya penakluk suku Berber di Afrika Utara semacam Musa Ibn Nusayr yang berupaya berasimilasi dan berakulturasi dengan adat dan kultur animisme dinamisme mereka. Akibatnya ajaran Islam sukses berkembang dan banyak di peluk di kawasan Libya pesisir, Afrika Utara, dan bila tidak dengan bantuan mereka, mustahil Andalusia Spanyol dapat bergabung dalam kekhalifahan Umayyah. Pada awalnya hanya suku-suku Berber di pesisir Libya, Afrika Utara, yang bergabung dan memeluk ajaran Islam, tetapi kemudian penetrasi ajaran Islam menyebar jauh hingga pedalaman gurun Sahara.[20]
Proses masuknya Islam ke Afrika Utara sempat terhenti pada tahun 680 M, akibat terbunuhnya cucu Nabi, Husein Ibn Ali dalam peristiwa Karbala,[21] yang mengakibatkan pemberontakan sipil disekitar wilayah Arab dan Syiria, antara pendukung ahlul bait (kelak menjadi kelompok Syi’ah) dan pendukung status quo dari penerus monarkhi Umayyah, Yazid Ibn Muawiyah Ibn Abu Sufyan. Pemberontakan sipil terhadap kekhalifahan Umayyah ini mengakibatkan 4 kali pergantian khalifah dalam kurun waktu lebih kurang dari 5 tahun antara tahun 685 M (tahun meninggalnya khalifah Muawiyah Ibn Abu Sufyan) hingga pada tahun naiknya khalifah bani Umayyah ke-5, Abdul Malik Ibn Marwan (Al Walid I) pada 685 M, sekalipun pemberontokan kelompok minoritas Syi’ah belum mereda sepenuhnya hingga tahun 692 M[22] saat pemimpin ke-4 Syi’ah, Imam Ali Ibn Husein (Imam Zainal Abidin)[23] terbunuh oleh racun Hisham Ibn Abd Malik atas instruksi khalifah Al Walid I.
Terlepas dari pergerakan Syi’ah di jantung kota kekhalifahan Umayyah, umumnya konsensus sejarawan Eropa memandang bahwa penaklukkan Afrika Utara oleh kekhalifahan Umar hingga kepemimpinan bani Umayyah dari tahun 647 M hingga 709 M telah sepenuhnya mengakhiri dominasi Katholikisme di Afrika untuk beberapa abad sesudahnya.[24] Akan tetapi, tidak semua sejarawan berpendapat demikian, justru belakangan ini muncul bukti baru tentang keadaan sosial riil di Afrika Utara kala itu, detail nuansa keberagamaan masyarakatnya yang lebih toleran –masih aktifnya ritus ziarah ke makam santo-santo Katholik diluar wilayah Kartago hingga tahun 850 M; dan bukti masih adanya komunikasi dan interaksi dengan gereja Katholik di Andalusia Spanyol; serta adanya bukti tambahan bahwa saat Gereja Katholik Roma (Rome patriarch) melakukan reformasi kalender Gregorian dan diadopsi oleh seluruh negara Eropa, di saat yang sama pemeluk Kristen Monphysit di Afrika Utara tidak menerapkan system kalender yang telah di rubah akibat tiadanya kontak dengan keuskupan Roma (Italia), dan beberapa penyebab sosial mengapa masyarakat Kristen Afrika beralih memeluk Islam.[25]
Selama masa kepemimpinan khalifah ke-6 Umayyah, Umar II, emir Ifriqiya yang selanjutnya, Ismail Ibn Abdullah, dikabarkan telah “menaklukkan” bangsa Berber dengan memberlakukan administrasi yang cenderung longgar dan toleran, serta akibat dari para penyebar awal ajaran Islam pada masyarakat suku Berber, termasuk salah satu di antara mereka adalah Abdullah Ibn Yasin yang sukses membuat ribuan bangsa Berber memeluk Islam.[26]
Di bagian lain benua Afrika, khususnya Tanjung Afrika, sejarah munculnya kontak perdagangan dan intelektual antara penduduk asli daerah pesisir Somalia dengan Jazirah Arab mungkin bisa menjelaskan sejarah pertemuan ajaran Nabi dengan penduduk asli Somalia. Sebagaimana dipaparkan pada paragraf pertama pada bab ini, kaum Muslim awal yang berhijrah ke kekaisaran Kristen Axum di Ethiopia, pertama kali berlabuh di pelabuhan dekat kota pantai Zeila yang berlokasi di bagian utara Somalia demi mencari suaka politik atau perlindungan dari suku Quraisy. Beberapa orang dalam rombongan hijrah yang pertama tersebut diberitakan, “mendapatkan perlindungan dan diizinkan untuk menetap di beberapa tempat sepanjang wilayah pesisir Tanjung Afrika (Somalia Utara) untuk memperkenalkan ajaran Islam pada penduduk setempat.[27] Kemenangan Muslim atas suku Quraisy pada abad ke-7 dalam peristiwa Fathu Makkah berdampak signifikan pada para pedagang dan pelaut local di wilayah pesisir utara Somalia, -sebagaimana mereka sejak masa lalu telah menjadi partner perdagangan bangsa Arab, logis bila kondisi ini kemudian mempengaruhi mereka untuk memeluk Islam.
Sampai beberapa abad selanjutnya, perdagangan di kawasan Laut Merah dan Laut Mediterania berada di bawah pengaruh kekhalifahan Islam untuk waktu lama. Melalui jalur perdaganlah, ajaran Islam tersebar ke Somalia khususnya di sepanjang kota yang berada di pesisir. Dikemudian hari, saat terjadi instabilitas politik-sosial di Jazirah Arab, terjadi gelombang migrasi keluarga-keluarga Muslim awal (keluarga bani Alawiyyin, para pendukung ahlul bait – pengikut Ali) ke wilayah pesisir Somalia. Kedatangan kabilah-kabilah ini menjadi puncak katalis kedatangan bangsa Arab, dan menjadi era percepatan penyebaran Islam di Tanjung Utara Afrika.[28] Pada akhir abad ke-8, (era 800-an M), sejarawan muslim Umayyah, Al Ya’qubi menulis bahwa keluarga-keluarga Muslim memiliki tempat tinggal tetap di sepanjang kota pelabuhan di pesisir utara Somalia.[29] Ya’qubi melanjutkan, bahwa terdapat kesultanan Adal dengan ibukotanya di Zeila, kota pelabuhan Somalia,[30] yang menegaskan bahwa setidaknya di awal abad ke-9 M hingga abad ke-10 M telah terdapat kesultanan Adal Islam di Somalia dengan Zeila sebagai ibukota perbentengannya. Menurut Lewis, pemerintahan Adal di pegang oleh dinasti local yang terdiri dari bangsa campuran Arab-Somalia, serupa dengan pola pemerintahan kesultanan Islam Mogadishu di Benadir, wilayah selatan Somalia. Sejarah kesultanan Adal diliputi oleh perebutan suksesi politik dan militer dengan tetangganya kekaisaran Kristen Ethiopia[31] pada abad ke-14 M hingga abad ke-16 M atau di era penjelajahan (exploration age).[32]
Catatan Kaki

[1] Bernama asli Muhammad Ibnu Ishaq, penulis sejarah awal kenabian berjudul al-Sirat al-Nabawiyat yang di susun pada masa Bani Umayyah. Tulisannya menjadi referensi pertama dan tertua yang diketahui memiliki kadar objektifitas tinggi untuk sumber otoritatif sejarah pembawa risalah Islam, Nabi Muhammad SAW.
[2] Peristiwa hijrah yang pertama terjadi pada tahun 614-615 M atau bulan Rajab 7 H, dalam dua gelombang caravan yang totalnya lebih dari ribuan orang. Gelombang pertama di pimpin oleh Utsman bin Mas’un dan sangat sedikit, hanya berjumlah 15 orang yang terdiri dari 11 pria dan 4 wanita. Ustman ibn Affan dan Ruqayyah ikut pula dalam rombongan ini. Peristiwa ini pula di kenal sebagai peristiwa Hujurat al-Habasyi (Migrasi ke Habasyah/Ethiopia). Saat itu, Ethiopia di kendalikan oleh kekaisaran Kristen Axum yang beraliran Monophysit Nestorian dan dipimpin oleh, -menurut kronik Islam tradisional, Ashama ibn Abjar atau Raja Negus al Najashi yang beragama Kristen. Rombongan pertama ini disambut hangat di kekaisaran Axum dan di lindungi oleh Negus hingga mereka kembali. (lihat Ibn Ishaq, al-Sirat al-Nabawiyat, hlm. 45)
[3] Sebutan pada kawan-kawan terdekat Nabi Muhammad SAW yang mengikuti ajaran beliau dan hidup sezaman dengan beliau.
[4] Masih merujuk pada tulisan Ibnu Ishaq, “setelah raja Negus mendengarkan pemaparan Ja’far. Ia menangis, dan berkata, “apa yang kau ceritakan tentang Yesus adalah benar dan seperti itu yang kami ketahui, tidak kurang atau pun lebih,” kemudian raja Negus mengizinkan umat muslim yang hijrah ke kekaisaran Axum untuk bertempat tinggal di mana saja mereka suka, di lindungi dan bebas dari tekanan suku Quraisy yang memaksa Negus agar mereka segera di deportasi ke Mekkah.” (Ibnu Ishaq, Ibid)
[5] Sebagai bukti, sejak sebelum era kerajaan Axum, ajaran Kristiani di bawa dan disebarkan oleh St. Lalibela (bernama lengkap Saint Gebre Mesqel Lalibela) pengikut ajaran St. Nestorius, seorang patriarch dari Konstantinopel yang kemudian juga menyebabkan  lahirnya aliran schisma antitesa namun masih di pengaruhi olehnya, yakni aliran Monophisit. St. Lalibela sendiri memadukan faham dyophysitisme nestorianisme dengan ajaran euthychianisme tentang sintesis Logos dengan kemanusiaan Yesus, memandang figus historis Yesus Kristus memiliki dua sisi personae yang berbeda yaitu, Yesus yang memiliki sisi persona kemanusiaan sepenuhnya berbeda dengan Yesus yang memiliki sisi persona ketuhanan sepenuhnya. Namun ajaran nestorianisme dan euthychianisme dikategorikan sebagi bid’ah pada Konsili Ephesus pada tahun 431 M. Akan tetapi sebagian ajaran nestorianisme kemudian di golongkan sebagai cabang kateskismus keyakinan Kristiani Afrika yang unik kedalam ortodoks oriental- monophysit. Sebagai bukti kuat adanya penyebaran ajaran Kristen Nestor di Afrika, di dataran tinggi Kush, masih terdapat sebuah kompleks biara dan gereja yang terbuat dari batu utuh, yakni Geraja St. Lalibela (Church of St. Lalibela).
[6] Di sebut Kristen Koptik Mesir, sebab bentuk katekismus atau ritus peribadatan Kristiani di Mesir saat itu mengikuti ordo Monophisit yang berpusat pada patriarch Alexandria/Iskandariah. Ordo ini masih dipengaruhi ajaran unitarianisme Arius dan menggabungkan sebagian ajaran Nestorius teolog yang membahas tentang skema inkarnasi logos. (Lihat Karen Armstrong, A History of God, hlm.56)
[7] Kadangkala di sebut islamisasi penduduk Koptik Mesir menurut sejarawan Eropa, diantaranya sejarawan  Clive Holes, dalam Modern Arabic: structures, functions and varieties (Georgetown University Press, hlm.29)
[8] Khalifah ke-3 periode Khulafa’urrasyidun, menggantikan khalifah ke-2, Utsman Ibn Affan.
[9] Cliver Holer Modern Arabic: structures, functions, and varieties, Georgetown University Press, 2004, ISBN 978-1-58901-022-2,  M1 Google Print, hlm. 29
[10] Maria al-Qibtiyah dikenal sebagai perempuan cantik, berkulit putih dengan rambut yang sedikit ikal. Nabi takjub pada kecantikannya itu hingga akhirnya beliau memilih untuk menggauli Maria. Maria meninggal pada bulan Muharram tahun 15 H. Jenazahnya di makamkan di pemakaman Baqi’ (lihat Ibnu Katsir, al-Bidayat wa al-Nihayat, Jilid III, hlm. 287-288). Dari hubungannya dengan Maria, Nabi memiliki anak bernama Ibrahim yang meninggal di waktu kecil (lihat Jamal al-Banna, al-Ta’addudiyat fi Mujtama’ Islami, hlm. 341.) Bandingkan dengan Ghazali yang berpendapat perkawinan Nabi dengan Maria hanya merupakan perjumpaan Islam dengan Kristen Koptik dalam ranah cultural-politik (Muhammad al-Ghazali, Fiqh al-Sirat. Hlm.34)
[11] Muqauqis, gubernur Alexandria Byzantium, tidak hanya menghadiahkan Maria al-Qibtiya saja, tetapi juga budak wanita bernama Syirin (Nabi menyerahkannya pada sahabat Hasan ibn Tsabit untuk diperistri), Mabur (budak lelaki yang telah dikebiri), dan seekor bigal betina (peranakan kuda dan keledai) bernama al-Duldul. (lihat Ibn Katsir, ibid)
[12] Lihat Byzantine Empire - The successors of Heraclius: Islam and the Bulgars” (http:/ / www. britannica. com/ eb/ article-9239). Britannica. 2007.
[13] Lihat Jamil M. Abun-Nasr, A history of the Maghrib in the Islamic period, Cambridge University Press, 1987, hlm. 28
[14] Lihat Supratignyo, 2002, Sejarah Afrika, Jurusan Sejarah Fakultas Sastra. UM Malang. hlm. 8
[15] Lihat Linda Kay Davidson and David Martin Gitlitz, Pilgrimage : from the Ganges to Graceland : an encyclopedia, Volume 1, ABC-CLIO, 2002, hlm. 301-302 dan “Islamic world - Berbers” (http:/ / www. britannica. com/ ebc/ article-26922). Britannica. 2007.
[16] Edward Gibbon, History of the Decline and Fall of the Roman Empire, Adelaide Library. hlm. 51
[17] Sebutan bani Umayyah atas Afrika Utara, pada saat yang sama (689 M) di pilih Musa Ibn Nusayr sebagai emir di Tunisia, Afrika Utara, untuk melanjutkan penaklukkan Afrika Utara, kepulauan Balearic dan Sardinia oleh Al Walid I.
[18] Lihat Ibn Abd al-Hakam, Kitab Futuh Misr wa’l Maghrib wa’l Andalus. hlm.78-84
[19] Bernama asli Tariq bin Abd ‘Allah bin Wanamū al-Zanātī, ia salah satu pemimpin utama dalam suku Berber Zenata, salah satu cabang dari 4 suku utama enis Berber (Zenata, Walhas, Warfajhuma dan Nafza) yang masuk Islam di kawasan Tripolitania, sebutan kekaisaran Byzantium untuk daerah Libya Utara sekarang. Lihat Muhammad al-Idrisi, Kitab nuzhat al-mushtaq, Juz. 2, hlm. 17
[20] Lihat Islamic world - Berbers” (http:/ / www. britannica. com/ ebc/ article-26922). Britannica. 2007.
[21] Peritiwa Karbala atau Maqtal al-Husayn terjadi pada tahun 61 H (680 M) biasa dikenang umat muslim di seluruh dunia sebagai pembantaian terkejam penguasa bani Umayyah pada anggota ahlul bait Nabi dan para sahabat Husein pada hari Ashura atau Suroan (menurut adat Islam Jawa) pada tanggal 10 bulan Muharram dalam kalender Hijriah.
[22] Ada yang berpendapat pada tahun 702 M, lihat Jafri, S.H Mohammad. “The Origin and Early Development of Shi’a Islam,”, Oxford University Press, 2002, hlm. 166
[23] Lihat Tabatabae (1979), Shi’ite Islam. Suny press hlm.203
[24]Lihat Hugh Goddard, “Christians and Muslims: from double standards to mutual understanding”, Routledge (UK), 1995 hlm. 125
[25] Diantara sejarawan Eropa modern yang tidak sependapat tentang pandangan tradisional Eropa atas sejarah Afrika adalah Sir Thomas Walker Arnold, ia berpendapat, “…new scholarship has appeared that provides more nuance and details of the conversion of the Christian inhabitants to Islam. A Christian community is recorded in 1114 in Qal’a in central Algeria. There is also evidence of religious pilgrimages till 850 AD to tombs of Catholic saints outside of the city of Carthage, and evidence of religious contacts with Christians of Arab Spain. In addition, calendar reforms adopted in Europe at this time were disseminated amongst the indigenous Christians of Tunis, which would have not been possible had there been an absence of contact with Rome.” Lihat The preaching of Islam: a history of the propagation of the Muslim faith oleh Sir Thomas Walker Arnold, hlm.125-258
[26] Sir Thomas Walker Arnold, Ibid, hlm.125-258
[27] Lihat dalam artikel A Country Study: Somalia dari The Library of Congress hlm. 17
[28] Ibid. hlm. 20
[29] Encyclopedia Americana, Volume 25 (http:/ / books. google. ca/ books?id=OP5LAAAAMAAJ). Americana Corporation. 1965. hlm. 255.
[30] Lihat Encyclopedia Americana, Volume 25, ibid dan bandingkan dengan Lewis, I.M. (1955). Peoples of the Horn of Africa: Somali, Afar and Saho (http:/ / books. google. ca/ books?id=Cd0mAQAAMAAJ). International African Institute. hlm. 140.
[31] Lihat I.M. Lewis, A pastoral democracy: a study of pastoralism and politics among the Northern Somali of the Horn of Africa, (LIT Verlag Münster: 1999), hlm. 17
[32] Ibid. hlm.19
Yusufalesvaram